Pemangkasan Tanaman Buah

Saya sering mendapat banyak pertanyaan, mengapa tanaman buah harus dipangkas ? Apa manfaat pemangkasan bagi tanaman ? Apa peran pemangkasan bagi produktivitas tanaman ? Dan masih banyak pertanyaan lain seputar pemangkasan tanaman.

Ada beberapa latar belakang yang mendasari mengapa tanaman harus dipangkas, pertama tanaman cenderung akan tumbuh terus, baik tumbuh ke atas maupun tumbuh ke samping. Pertumbuhan yang tidak diarahkan pada beberapa jenis tanaman buah, akan menghasilkan tajuk tanaman yang umumnya tumbuh memanjang ke arah atas (Jawa : nglancir), dengan batang atau cabang tunggal. Kuatnya dominasi apikal (tunas ujung) di bagian ujung tanaman, memacu tanaman untuk terus tumbuh meninggi ke arah atas, dan salah satu cara untuk mematahkan dominasi apikal tersebut adalah dengan cara pemangkasan, yang akan merangsang keluarnya pertumbuhan tunas-tunas samping atau tunas lateral. Dengan demikian, bentuk tanaman sebagai manifestasi pertumbuhan tanaman menjadi lebih ideal dan seimbang, baik pertumbuhan ke arah atas maupun ke arah samping. Kesehatan tanaman secara keseluruhan juga sangat dipengaruhi oleh bentuk tanamannya. Banyak dahan dan ranting yang tumbuh tidak teratur dan bersilangan di bagian tengah tanaman dengan daun-daun yang umumnya tidak terkena sinar matahari secara langsung. Daun-daun yang tidak terkena sinar matahari secara langsung, lebih bersifat parasit bagi tanaman secara keseluruhan karena tidak melakukan proses fotosintesis namun tetap mendapatkan fotosintat (hasil fotosintesis) dari daun-daun di bagian terluar yang terkena sinar matahari langsung. Itu sebabnya, banyak tanaman yang secara keseluruhan tumbuh dengan lebat, daunnya rimbun dengan warna daun yang hijau pekat, namun teramat sangat jarang memunculkan bunga/buah. Jika muncul bunga/buah, maka bunga dan buah yang muncul jumlahnya terbatas atau sedikit sekali. Fotosintat yang terbentuk hanya dialokasikan untuk pertumbuhan tanaman, khususnya ke bagian tanaman yang bersifat parasit tersebut, dan pada akhirnya hanya sangat sedikit jumlah fotosintat yang akhirnya dialokasikan oleh tanaman untuk memunculkan bunga dan buah. Tanaman yang dipangkas teratur akan memberikan lingkungan mikro yang baik bagi pertumbuhan tanaman itu sendiri, di mana sinar matahari sebagai sumber energy utama dapat menembus semua bagian tanaman, memberikan iklim mikro yang baik, mengurangi kelembaban yang berlebihan, juga dapat meminimalkan perkembangan jamur dan organism pengganggu tanaman (OPT) lainnya. Dengan demikian pertumbuhan tanaman menjadi lebih optimal untuk memberikan hasil yang optimal pula.

Pangkas Bentuk : adalah pemangkasan yang bertujuan untuk membentuk tajuk tanaman seawal mungkin, pada umur tanaman yang masih muda. Pada beberapa jenis tanaman tertentu (mangga misalnya), pangkas bentuk dilakukan dengan mengikuti pola 1-3-9 yang berarti 1 batang utama yang dipangkas akan menghasilkan beberapa cabang primer, dan dari beberapa cabang primer tersebut dipilih 3 cabang yang pertumbuhannya paling seragam dan seimbang dengan arah pertumbuhan yang proporsional (misalnya membentuk sudut 120 derajat bersilangan). Dari 3 cabang primer yang dipelihara ini, masing-masing cabang akan dipangkas lagi untuk menghasilkan 3 cabang sekunder dengan pertumbuhan terbaik, seimbang, dan proporsional. Dengan demikian, pasca pemangkasan bentuk sejak dini, pada akhirnya akan diperoleh tanaman dengan pola percabangan 1-3-9. Dengan pola percabangan seperti ini, akan dihasilakan tanaman dengan tajuk yang rimbun dan membulat, dengan ketinggian yang dapat diatur. Pada kasus tertentu, jika hanya terdapat 2 cabang primer pada batang utama, maka 2 cabang primer ini pun masih dapat dibentuk dengan mengikuti pola 1-2-6, sebagaimana pola 1-3-9. Pola 1-2-6 pun masih memberikan bentuk percabangan ideal dengan bentuk tajuk yang juga membulat dan rimbun. Pada pemangkasan bentuk seperti ini, semua dahan dan ranting yang bersilangan di dalam pola 1-3-6 atau 1-2-6 harus dibuang habis, dan hanya menyisakan cabang-cabang tersier di ujung tanaman.

Pangkas Produksi yaitu pemangkasan yang bertujuan untuk merangsang munculnya tunas-tunas produktif, khususnya tunas-tunas yang berada di tajuk bagian terluar dari tanaman. Semakin banyak tunas produktif di ujung ranting, maka kemungkinan munculnya bunga dan buah juga akan semakin banyak, artinya jumlah bunga/buah berbanding lurus dengan jumlah ujung ranting produktif. Pemangkasan produksi juga dilakukan pada semua dahan/ranting di bagian tengah tanaman yang tidak produktif dan tumbuh tidak beraturan, termasuk memangkas habis semua tunas air yang tumbuh lurus, tegak lurus di cabang primer maupun cabang sekunder. Coba perhatikan tunas-tunas air yang tumbuh di cabang primer/sekunder tanaman durian, jambu air, atau durian. Tunas air ini bersifat parasit dan tumbuh sangat cepat, melebihi kecepatan pertumbuhan tunas-tunas lainnya, dengan mengambil fotosintat hasil fotosintesis sebagai energi pertumbuhannya. Selain itu tunas air juga sangat jarang memunculkan bunga meski tanaman telah memasuki siklus/periode berbunga. Tunas-tunas air ini sebenarnya dapat dimanfaatkan sebagai entres untuk bahan perbanyakan tanaman, diambil sebagai entres yang disambungkan ke batang bawah dengan metode sambung susuan, sambung pucuk (top grafting), maupun sambung sisip. Hasilnya, bibit baru dengan sifat genetic yang sama persis dengan sifat genetic tanaman induk, tempat tunas air tersebut diperoleh.

Pangkas Pemeliharaan lebih ditujukan untuk memeliharan kesehatan tanaman secara keseluruhan dengan melakukan pemangkasan bersamaan dengan pemberian pupuk, dan umumnya harus dilakukan pasca tanaman menyelesaikan periode berbuah, saat di mana energi tanaman terkuras habis untuk membesarkan buah, dimulai saat pentil buah terbentuk hingga buah masak fisiologis. Pemangkasan dilakukan dengan memangkas habis semua ujung-ujung ranting tempat keluarnya bunga/buah (contoh mudah adalah pada tanaman mangga, rambutan, dan klengkeng). Pemangkasan ujung-ujung ranting akan merangsang keluarnya tunas-tunas baru yang jumlahnnya akan lebih banyak dari jumlah tunas sebagai ujung ranting. Selain itu akan memudahkan pemeliharaan dengan mempertahankan tinggi tanaman yang tetap pendek, tidak tinggi menjulang atau tumbuh terlalu melebar ke arah samping sehingga menhabiskan banyak tempat untuk menunjang pertumbuhan tanaman secara keseluruhan. Pangkas habis pula semua tunas air yang muncul serta membuang semua ranting kering yang mati. Ranting kering ini biasanya menjadi tempat yang menyenangkan bagi pertumbuhan beberapa jenis hama, khususnya hama penggerek batang.

Gunakan alat pangkas yang tajam dan bersih agar bekas pangkasan terbentuk dengan rapi, tidak meninggalkan luka yang mungkin bisa menjadi sumber infeksi penyakit bagi tanaman. Hindari penggunaan golok/parang untuk memangkas, lebih baik menggunakan gunting pangkas untuk ranting kecil, sementara penggunaan gergaji lebih disarankan untuk memotong cabang/dahan tanaman yang berukuran besar, karena bekas potongan akan menjadi lebih rapi. Olesi semua bekas potongan dengan menggunakan parafin, aspal cair, atau cat untuk menghindari infeksi jaringan tanaman yang terluka akibat pemotongan.

Langkah terakhir yang dilakukan bersamaan dengan pemangkasan, adalah pemupukan dengan jenis atau komposisi pupuk yang berbeda di setiap periode. Pada pemangkasan untuk pembentukan tajuk tanaman, unsur nitrogen dibutuhkan lebih dominan, disertai pemberian unsur fosfat yang lebih sedikit. Pada pemangkasan produksi, pemberian unsur fosfat menjadi lebih dominan dengan tambahan unsur kalium hingga periode pembuahan selesai, sementara pada pemangkasan pemeliharaan, pemberian unsur nitrogen, fosfat, dan kalium dalam jumlah seimbang akan memberikan hasil yang lebih optimal.

pupuk dan pemupukan

Sejatinya, segala jenis tanaman membutuhkan suplai makanan untuk menyelesaikan satu daur hidupnya (tumbuh, berkembang, berbunga, dan berbuah). Ada jenis tanaman yang menyelesaikan satu daur hidupnya dalam satu musim lalu mati, ada pula yang melalui beberapa musim sebelum mati, dan ada juga yang memerlukan waktu lebih lama untuk memutar daur hidupnya, berulang secara periodik dalam waktu bertahun-tahun. Dalam satu daur hidup, suplai makanan harus berlangsung secara kontinyu, agar tanaman bisa hidup secara sempurna. Secara umum, pertumbuhan tanaman dibagi menjadi menjadi dua fase. Fase vegetatif dideskripsikan sebagai masa pembiakan dan pertumbuhan sel-sel vegetatif yang dipersiapkan sebagai fase utama penunjang bagi tanaman sebelum tanaman memasuki fase berikutnya, yaitu fase generatif saat tanaman memulai periode berbunga dan diakhiri dengan periode berbuah. Pasca berbuah, tanaman tahunan khususnya, akan mengulangi proses tersebut sebagai suatu siklus secara periodik, mengikuti musim yang mengiringi pertumbuhan dan perkembangan tanaman.

Ibarat makanan pada manusia, hara dalam tanah adalah makanan bagi tanaman. Ketersediaan hara yang cukup sangat diperlukan untuk menunjang semua proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman, karenanya suplai hara secara kontinyu sangat diperlukan agar diperoleh manfaat maksimal dari usaha budidaya tanaman, khususnya tanaman buah. Ketersediaan hara dalam tanah akan berkurang dari waktu ke waktu karena terikut bersama bagian tanaman yang dipanen, tercuci oleh air (baik air irigasi maupun air siraman), maupun terikat oleh partikel lain dalam tanah sehingga menjadi tidak tersedia bagi tanaman. Memahami hal tersebut, diperlukan upaya untuk menambah atau setidaknya mempertahankan jumlah hara tersedia dalam tanah dengan cara pemberian hara dalam bentuk pupuk.

Secara umum, pupuk dibedakan menjadi pupuk organik dan pupuk anorganik. Pupuk organik diperoleh antara lain dari sumber yang memanfaatkan bagian/limbah tanaman (daun, buah, kulit buah, biji, cangkang buah, sabut, seresah, dan sebagainya), limbah ternak/hewan (kotoran, air seni, darah, kulit luar, cangkang, dan sebagainya), maupun sumber-sumber bahan organik lainnya (sampah/limbah rumah tangga, limbah restoran, limbah industri, maupun kotoran/air seni manusia), yang diproses secara alami di alam maupun difermentasi secara buatan agar semua bahan tersebut terurai sempurna dan menjadi hara tersedia bagi tanaman. Sementara pupuk anorganik diperoleh dari sintesis unsur/senyawa tertentu yang dimodifikasi susunan/bentuknya, sehingga jika diberikan ke dalam tanah dapat berubah dan menjadi hara tersedia serta dapat diserap oleh akar tanaman. Umumnya sintesis unsur/senyawa pupuk anorganik dilakukan di pabrik yang didesain khusus untuk keperluan tersebut.

Berdasarkan kandungannya, pupuk dibedakan menjadi pupuk dengan kandungan hara makro primer (mengandung unsur Nitrogen, unsur Phosphat, dan unsur Kalium/Potassium), hara makro sekunder (unsur Hydrogen, unsur Carbon, unsur Sulphur, unsur Calcium, dan unsur Magnesium), serta hara mikro (unsur Ferrum, unsur Zinc, unsur Boron, unsur Mangan, unsur Silika, dan unsur Aluminium). Masing-masing unsur mempunyai peran dan fungsi yang berbeda dalam proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Jumlah kebutuhan masing-masing unsur pun berbeda, sehingga beberapa unsur dikategorikan sebagai hara makro primer (unsur utama yang dibutuhkan dalam jumlah banyak), unsur hara makro sekunder (unsur utama yang dibutuhkan dalam jumlah lebih sedikit) serta unsur hara mikro (unsur penunjang yang dibutuhkan dalam jumlah sedikit namun mutlak harus tersedia).

Dilihat dari bentuknya, pupuk dibedakan menjadi pupuk berbentuk padat dan pupuk berbentuk cair. Pupuk padat umumnya diberikan langsung ke dalam tanah di sekeliling tanaman, sedangkan pupuk berbentuk cair biasanya diberikan ke tanaman lewat daun (foliar application) dan biasanya diaplikasikan melalui proses penyemprotan. Dalam beberapa kasus, ada pupuk yang dibuat berbentuk padat namun harus diaplikasikan dalam bentuk larutan (umumnya adalah pupuk daun), sementara ada beberapa orang yang sengaja menggunakan pupuk berbentuk padat yang dilarutkan ke dalam air dan diberikan ke tanaman dalam bentuk air siraman (Jawa : dikocor).

Melihat komposisinya, pupuk dibedakan menjadi pupuk tunggal, yaitu pupuk yang hanya terdiri atas satu unsur saja. Contoh untuk pupuk jenis ini adalah : pupuk urea (unsur Nitrogen), pupuk SP36 atau SP18 (unsur Fosfat), pupuk KCl (unsur K), pupuk Ca (unsur Calsium), pupuk Bo (unsur Boron), dan sebagainya. Selain pupuk tunggal, dikenal pula pupuk majemuk (compound fertilizer) yang terdiri atas kombinasi beberapa unsur, bisa dua unsur atau lebih yang digabung sekaligus. Pupuk NPK adalah contoh yang paling umum dari pupuk jenis ini. NPK adalah singkatan dari Nitrogen, Phosphat, dan Kalium, dengan komposisi yang beragam. NPK 15-15-15 menandakan bahwa pupuk NPK jenis ini mengandung 15% unsur N, 15% unsur P, dan 15% unsur K, sementara sisanya sebanyak 55% adalah bahan pengisi (filler) untuk mengikat ketiga unsur tersebut menjadi satu komposisi pupuk. Komposisi NPK sangat beragam, tergantung kepada kebutuhan pemupukan tanaman, sebagai contoh adalah komposisi 16-16-16, 20-20-20, 10-30-40, 5-40-20, dan kadang-kadang ditemukan pula komposisi 15-15-15+TE yang dapat diartikan sebagai NPK plus “Trace Element“, yakni NPK yang kandungannya ditambahi dengan beberapa unsur mikro. Pupuk majemuk masih dibagi lagi menjadi pupuk majemuk kategori “chemical blending” di mana unsur N,P,K dicampur dengan bahan pengisi/pengikat (filler) dan dibentuk menjadi pupuk butiran (granule) yang bersifat homogen dengan warna yang bermacam-macam, disesuaikan dengan keinginan pabrikan pupuk. Pupuk majemuk yang lain adalah pupuk majemuk kategori “physical blending” di mana unsur N,P,K dicampur langsung sesuai dengan komposisi yang diinginkan tanpa menggunakan bahan pengikat/pengisi sehingga di pupuk NPK jenis ini terlihat jelas semua material penyusun pupuk tersebut seperti kristal nitrogen, batuan fosfat, maupun kristal kalium dengan warna yang berbeda-beda dan tidak homogen.

Selain berdasarkan kandungan dan bentuknya, pupuk masih dapat dibedakan lagi menjadi pupuk untuk pertumbuhan sel-sel vegetatif serta pupuk untuk merangsang pembungaan dan pembuahan pada fase generatif. Nitrogen dan fosfat dalam jumlah lebih banyak dibutuhkan pada saat pertumbuhan vegetatif karena proses pembelahan dan perkembangan sel-sel yang insentif, sementara fosfat diperlukan dalam jumlah lebih dominan saat tanaman memasuki periode vegetatif yang ditandai dengan munculnya bunga, sementara untuk merangsang pembentukan bakal buah, pengisian buah serta pemasakan buah, dibutuhkan unsur kalium dalam jumlah yang lebih banyak. Dengan demikian, pada fase yang pertumbuhan dan perkembangan tanaman yang berbeda, dibutuhkan jenis pupuk yang berbeda pula.

Pemberian pupuk untuk tanaman mengacu kepada prinsip 4 (empat) tepat : Tepat JENIS, artinya jenis pupuk yang diberikan ke tanaman harus disesuaikan dengan kebutuhan tanaman. Tepat WAKTU, mengacu kepada waktu yang paling tepat untuk pemberian pupuknya. Tepat DOSIS menggambarkan bahwa pupuk harus diberikan dalam jumlah yang tepat, tidak dalam jumlah yang terlalu sedikit, apalagi diberikan dalam jumlah berlebihan. Tepat CARA memberi panduan bahwa pupuk harus diberikan ke tanaman dengan cara yang tepat agar diperoleh manfaat yang paling optimal bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman.

membuat media tanam sendiri

Contoh komposisi media tanam tabulampot

Sebagai tempat untuk tumbuh dan berkembang, tanaman membutuhkan media tanam yang sanggup menopang dan mendukung pertumbuhan dan perkembangannya, untuk menyelesaikan satu atau lebih daur hidupnya. Media tanam ideal harus mampu memberikan dukungan fisik berupa kemampuan media untuk menopang keseluruhan “tubuh” tanaman agar tetap kokoh dan tidak mudah goyah apalagi roboh, mampu memberikan suplai air dan oksigen yang cukup untuk pertumbuhan akar, mempunyai rongga (biasa dikenal sebagai “porositas”) agar mampu meneruskan kelebihan air sekaligus menyimpan air dalam jumlah secukupnya. Dukungan kesuburan kimiawi media tanam diartikan sebagai kemampuan media tanam dalam memberikan suplai makanan dalam bentuk hara terlarut untuk diserap oleh akar, karena itu istilah tanah subur sebenarnya mengacu kepada kemampuan tanah dalam menyimpan dan memasok berbagai macam unsur atau senyawa yang dibutuhkan oleh tanaman. Terakhir, kesuburan biologis mempunyai peranan penting bagi pertumbuhan tanaman karena media tanam yang subur secara biologis berarti mengandung banyak mikro organisme atau jasad renik yang mempunyai kemampuan mengurai berbagai senyawa organik maupun anorganik, agar menjadi tersedia dan bisa diserap oleh akar tanaman

Dari berbagai sumber pengalaman, media tanam tabulampot biasanya terdiri dari tiga komponen utama, yakni tanah, pupuk organik, dan material lain yang berfungsi untuk menjadikan media tanam lebih subur, lebih porous, tidak mudah memadat, dan mampu membuat akar tumbuh dengan baik dan leluasa. Tanah yang digunakan juga bervariasi tergantung jenis tanahnya, namun secara sederhana tanah dapat diklasifikasikan berdasarkan tiga komponen utama penyusun (fraksi) tanah, yakni fraksi lempung, fraksi debu, dan fraksi pasir. Tanah dengan kandungan fraksi lempung yang tinggi dikatakan sebagai tanah “berat”, bersifat liat, susah diolah, mampu menyimpan air dengan sangat baik sekaligus sulit meneruskan kelebihan air yang tersimpan di permukaan dan di dalam tanah, dan biasanya mempunyai tingkat kesuburan yang lebih tinggi. Sebaliknya, tanah dengan kandungan fraksi pasir yang tinggi dikategorikan sebagai tanah “ringan”, ikatan antar butiran penyusun struktur sangat lemah, sangat mudah diolah, kurang baik kemampuannya dalam menyimpan air, rendah kandungan bahan organik dengan tingkat kesuburan tanah yang lebih rendah pula

Kesulitan utama dalam pemilihan media tanam tabulampot adalah jika di sekitar rumah hanya ada tanah “berat” atau tanah “ringan” sebagaimana uraian sebelumnya, sehingga diperlukan upaya untuk memodifikasi tanah tersebut agar bisa digunakan untuk media tanam yang ideal. Karenanya, tanah “berat” perlu dimodikasi agar tanah menjadi lebih “ringan”, memiliki ruang pori yang cukup, mempunyai kemampuan dalam menyimpan air sekaligus mampu meneruskan kelebihan air. Sementara modifikasi tanah “ringan” ditujukan agar tanah “ringan” memiliki ruang pori optimal dan tidak berlebihan, ikatan struktur tanah yang lebih baik dan kuat, mempunyai kemampuan untuk mengikat air lebih lama, dan mempunyai tingkat kesuburan tanah yang lebih baik dibandingkan jika tanpa modifikasi sama sekali.

Modifikasi tanah berat terutama dilakukan untuk mengubah struktur tanah agar menjadi lebih remah sekaligus membuat struktur baru tersebut mampu membuang kelebihan air tanah agar tidak menggenang dan becek. Struktur tanah remah akan sangat membantu akar tanaman untuk tumbuh dengan baik dengan penyebaran merata sehingga mampu menyokong pertumbuhan tanaman. Penambahan material tertentu seperti butiran pasir kasar, sekam bakar maupun sekam segar, ataupun serbuk gergaji, lazim digunakan untuk mengubah dan memperbaiki struktur tanah berat. Kebalikannya, modifikasi tanah ringan ditujukan agar struktur tanah berubah menjadi lebih kuat, dan mampu menyimpan air lebih lama, sekaligus meningkatkan kesuburan tanah. Pupuk kandang, kompos daun, humus, maupun tanah liat adalah material yang biasa digunakan untuk memodifikasi tanah ringan agar dapat digunakan sebagai media tanam tabulampot.

Pada tanah berat, modifikasi biasanya dilakukan dengan mencampur 1 bagian tanah dengan 2 bagian sekam bakar, dan 1 bagian pupuk kandang atau kompos (perbandingan volume 1:2:1), sementara modifikasi tanah ringan biasanya dilakukan dengan mencampur 1 bagian tanah dengan 1 bagian sekam bakar, dan 2 bagian pupuk kandang atau kompos(perbandingan volume 1:1:2). Sedangkan pada tanah-tanah dengan kandungan lempung, debu, dan pasir seimbang (tanah sedang), komposisi modifikasinya adalah 1 bagian tanah dicampur dengan 1 bagian sekam bakar dan 1 bagian pupuk kandang atau kompos (perbandingan volume 1:1:1). Takar semua bahan dengan menggunakan ember atau pot kecil sesuai perbandingan masing-masing kemudian diaduk merata. Dapat pula dicampurkan bahan sterilisasi hama-hama tanah berupa Carbofuran (merk dagang Furadan 3G), yakni insektisida butiran sebanyak 1 sendok teh untuk media tanam dalam pot dengan diameter 40 cm.

memilih jenis/varietas tanaman buah

Apa yang pertama kali dipikirkan seseorang saat hendak memulai untuk memilih jenis/varietas tanaman buah ? Mulailah dengan memikirkan jenis/varietas tanaman buah yang paling gampang berbuah terlebih dahulu. Jenis/varietas tanaman buah yang paling mudah berbuah saat dibudidayakan (baik ditanam di lahan, maupun ditanam di dalam pot). Jenis tanaman jeruk atau jambu air dengan berbagai macam varietas lokal, biasanya menjadi pilihan pertama untuk memulai hobby budidaya tanaman buah, karena selain relatif lebih mudah berbuah, harga bibitnya pun relatif murah.

Di atas, saya menulis jenis/varietas ? apa yang dimaksud dengan jenis dan apa yang dimaksud dengan varietas ? Jenis, mengacu ke istilah species suatu tanaman, sementara varietas adalah bagian penamaan dari suatu species yang dibudidayakan oleh manusia. Jika suatu species tidak dibudidayakan, maka bukan lagi disebut sebagai suatu varietas. Ambil contoh gampang : mangga.  Mangga masuk ke dalam kategori species. Sementara arumanis, gedong, gedong gincu, golek, manalagi, dan sebagainya dinamakan sebagai suatu varietas dari species mangga.

Pemilihan jenis bibit tanaman akan menjadi faktor utama yang sangat menentukan keberhasilan budidaya tanaman, artinya kualitas bibit yang ditanam akan menentukan kualitas tanaman, seperti keberhasilan tanaman untuk tumbuh dengan baik, mampu menyelesaikan semua siklus pertumbuhan dan perkembangan (tumbuh, berkembang, berbunga, dan berbuah) dengan baik. Keberhasilan tersebut tentunya harus ditunjang dengan perawatan yang baik. Jangan diharapkan, suatu tanaman yang meski bibitnya adalah bibit berkualitas, namun jika tidak dirawat dengan baik, akan tumbuh dan berkembang sebagaimana yang diharapkan.

Secara garis besar, bibit tanaman dapat  dikategorikan menjadi 2 (dua) macam, yakni bibit GENERATIF yang diperoleh dari biji (seedling) yakni biji suatu tanaman yang dikecambahkan pada suatu media tertentu hingga tumbuh menjadi tanaman muda dan seterusnya. Biji dapat diperoleh dari buah yang merupakan hasil persilangan/perkawinan antara bunga jantan dan bunga betina dalam satu tanaman yang sama,  antara tanaman yang sejenis maupun antara tanaman yang berbeda jenis namun masih berada dalam hubungan kekerabatan yang dekat. Selain itu dikenal istilah bibit VEGETATIF, yaitu bibit yang diperoleh bukan melalui proses persilangan/perkawinan tanaman, melainkan hasil perbanyakan dari bagian tanaman, mulai dari akar, batang, hingga daun tanaman itu sendiri. Jenis bibit tersebut mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing, sesuai dengan cara dan asal pembuatan bibit tersebut.

Bibit yang berasal dari biji umumnya akan tumbuh lurus, percabangan pertama biasanya dimulai pada posisi yang jauh dari permukaan tanah, relatif lebih lambat berbuah, dan mempunyai kemungkinan menghasilkan keturunan yang mempunyai perbedaan sifat dengan sifat induknya. Bibit yang berasal dari biji biasanya disebut dengan bibit generatif karena diperbanyak dengan cara “perkawinan” antara benangsari (alat kelamin jantan) dan kepala putik (alat kelamin betina) pada suatu bunga. Perkawinan ini bisa terjadi antara tepungsari dan kepala putik pada bunga yang sama, maupun perkawinan yang terjadi antara tepungsari satu bunga yang diserbuki oleh benangsari dari bunga lain pada pohon sama maupun dari pohon yang berbeda namun masih berada dalam satu spesies/varietas. Proses perkawinan ini akan menghasilkan keturunan dalam bentuk buah yang mengandung biji sebagai alat perbanyakan tanaman. Tanaman asal biji akan mempunyai variasi genetik yang beragam, sebagian akan mengikuti sifat induk jantan, sebagian mewarisi sifat induk betina, dan sebagian lagi akan membawa sifat gabungan antara sifat induk jantan dan sifat induk betina. Karenanya, cukup beresiko jika menanam bibit yang berasal dari biji karena variabilitas sifat genetiknya yang beragam.

Bibit okulasi (tempel mata) tanaman klengkeng

Jika dapat dilakukan identifikasi sederhana tentang sifat keunggulan suatu tanaman, misalnya gampang dan rajin berbuah, jumlah buah banyak dalam satu periode berbuah, rasa buah enak, jarang diserang oleh hama dan penyakit dan sebagainya, maka dapat dikatakan ada calon pohon induk yang jika diperbanyak, akan menghasilkan keturunan yang diharapkan mempunyai sifat yang identik dengan sifat induknya tersebut. Jika perbanyakan dengan biji dianggap terlalu lama dan bisa menghasilkan penyimpangan sifat unggul tanaman, orang kemudian berpikir bagaimana caranya agar sifat-sifat baik tersebut dapat diturunkan ke generasi berikutnya tanpa mengalami perubahan sifat. Karenanya mulai banyak dicoba cara perbanyakan tanaman tanpa melalui proses persilangan/perkawinan, dimulai dengan mengambil tunas anakan yang keluar di pangkal batang dan kemudian tunas tersebut dipelihara untuk dijadikan bibit baru. Kemudian ditemukan cara menumbuhkan akar di bagian cabang/dahan tanaman yang pada perkembangannya kemudian dikenal dengan istilah cangkok. Pembuatan bibit semakin berkembang dengan menempelkan mata tunas dari tanaman terpilih ke batang tanaman yang lain yang masih sejenis atau berbeda jenis namun masih berada dalam hubungan kekerabatan yang dekat, misalnya batang bawah mangga kweni/pakel (Mangifera odorata) yang ditempel dengan mata tunas dari mangga arumanis (Mangifera indica), batang bawah sawo kecik (Manilkara kauki) yang ditempel dengan mata tunas dari sawo manila (Achraz zapota), dan sebagainya. 

Bibit okulasi (tempel mata) klengkeng berumur satu tahun

Bibit tanaman yang populer lainnya adalah bibit yang berasal bibit cangkokan. Dikatakan cangkokan karena bibit

Bibit cangkok di pohon induk Jambu Citra Jumbo

dibuat dan diambil dari dahan/cabang yang dicangkok menggunakan cara dan media tertentu yang pada dasarnya adalah cara untuk menumbuhkan akar pada cabang/dahan tanaman yang dikehendaki. Cangkok adalah cara yang paling mudah dilakukan jika species/varietas tanaman tergolong susah untuk diperbanyak dengan cara lain, misalnya sangat sulit untuk menumbuhkan biji tanaman, kesulitan menempel mata tunas, atau menyusukan batang bawah ke dahan tanaman tertentu yang terpilih, karenanya cangkok menjadi alternatif utama sebagai cara untuk memperbanyak tanaman tertentu. Metode cangkok mempunyai beberapa keunggulan, antara lain : sifat genetik bibit akan sama persis dengan sifat genetik induknya, mudah membentuk tajuk tanaman yang rimbun, dan relatif lebih cepat berbuah dalam waktu yang lebih singkat. Sementara kekurangan bibit asal cangkok adalah tidak mempunyai akar tunggang (akar utama yang menghunjam ke dalam tanah) sehingga mudah roboh jika tertiup angin kencang, perakaran menyebar membentuk serabut kecil-kecil yang akan berkembang meluas seiring dengan pertumbuhan tanaman. Pertumbuhan dan perkembangan akar serabut sangat bergantung kepada tingkat kesuburan tanah, kedalaman lapisan olah tanah, dan tingkat kekeringan/kebasahan tanah. Semakin subur tanah dengan lapisan olah tanah yang dalam serta ketersediaan air yang cukup, akan mendorong pertumbuhan akar serabut menjadi lebih banyak dan lebih baik untuk menunjang pertumbuhan tanaman.

Batang bawah Sawo Kecik disambung-susukan ke Sawo Jumbo CM19

Pada perkembangan selanjutnya, cangkok dianggap boros dalam memanfaatkan bahan tanaman karena dalam satu dahan yang dicangkok, bisa terdapat puluhan bahkan ratusan mata tunas yang siap ditumbuhkan menjadi bahan tanaman baru. Selain itu, mencangkok dalam jumlah banyak dan dalam frekuensi yang tinggi dianggap merugikan tanaman induk karena pengurangan jumlah dahan yang berarti pula terjadi pengurangan sumber buah khususnya tanaman yang berbunga dan berbuah di ujung ranting (misalnya klengkeng, rambutan, mangga) serta pengurangan jumlah daun yang berfungsi sebagai “dapur” bagi tanaman. Selain itu, keterbatasan jumlah dahan yang dicangkok akan menyebabkan jumlah bibit yang dihasilkan pun akan terbatas jumlahnya. Karenanya mulailah ditemukan cara lain untuk memperbanyak tanaman secara vegetatif, misalnya dengan mengambil mata tunas yang terdapat pada ketiak daun kemudian ditempelkan pada batang bawah tanaman sejenis yang berasal dari biji. Pada perkembangannya, mata tunas tanaman tertentu ternyata masih bisa ditempelkan pada batang bawah tanaman lain yang berbeda species-nya, namun masih berada dalam hubungan kekerabatan yang dekat, sebagaimana yang telah diungkap di atas. Dengan demikian, bibit tanaman dapat dibuat dalam jumlah banyak dalam waktu yang singkat. Perbanyakan tanaman dengan cara menempel mata tunas ini kemudian lazim dikenal dengan istilah “okulasi”, sehingga bibit yang dihasilkan, dikenal dengan istilah bibit okulasi. Teoritis, bibit yang dihasilkan dengan cara okulasi akan mempunyai sifat genetik yang sama persis dengan sifat genetik batang atas tanaman induknya, namun timbul beberapa kasus munculnya pengaruh batang bawah terhadap kualitas tanaman secara keseluruhan, khususnya di kualitas buah (bentuk, warna, tekstur daging, dan rasa buah). Interaksi sifat batang bawah dengan sifat batang atas hasil okulasi lazim dikenal dengan istilah kompatibilitas, semakin baik kompatibilitasnya berarti semakin sedikit pengaruh batang bawah terhadap kualitas batang atas, demikian pula sebaliknya.

Klengkeng lokal disambung-susukan ke klengkeng Pingpong

Seiring dengan perkembangan waktu, kreatifitas perbanyakan tanaman secara vegetatif semakin bervariasi, mulai dari menempel antar batang tanaman sebelah luar, menempel irisan batang atas dengan beberapa mata tunas ke batang bawah, menyisipkan batang bawah ke batang atas, hingga perbanyakan vegetatif yang paling canggih yang dikenal dengan perbanyakan secara kul

Entres klengkeng "DR Jenderal" disambung-sisipkan ke klengkeng lokal

tur jaringan

Memulai sesuatu yang baru di wordpress

Setelah cukup lama berkutat di blogspot untuk bertukar cerita topik tentang buah-buahan tropis, tiba saatnya untuk memulai “kerjaan baru” di wordpress, tujuannya sama, untuk bertukar cerita (dalam bahasa yang lebih keren disebut “share“), kepada semua orang yang tertarik topik tentang buah tropis, entah itu para “pakar”, pemula, maupun orang yang sama sekali belum pernah bersinggungan dengan topik tersebut. Saat pertama blogging di blogspot dengan 2 blog berbeda (yang satunya pakai sedikit ulasan perihal beberapa topik tentang tanaman buah, http://leira-fruit.blogspot.com, dan blog satunya lagi full memejeng foto aneka buah tropis tanpa ada deskripsi sedikitpun, http://buah-tropis.blogspot.com, responnya ternyata di luar dugaan. Responnya bertambah ramai saat saya bikin account baru “Buah Tropis” di facebook, di penghujung tahun 2010 yang lalu. Lebih dari 900 teman baru menjadi sahabat “Buah Tropis” di facebook dalam kurun waktu hanya sebulan. Telepon, sms, email, dan facebook inbox, datang silih berganti, meminta waktu lebih untuk ditanggapi. Nggak ngira, begitu banyak orang yang tertarik dengan dunia buah-buahan, meski mereka berasal dari latar belakang yang beragam (dokter, polisi, pebisnis, peternak, pegawai negeri/swasta, ibu rumah tangga, mahasiswa, plus yang suka demonstrasi, dan beragam profesi lainnya. Semuanya memperlihatkan atensi, mulai dari sekedar bertanya hanya karena ingin tahu hingga ke level penghobi berat tanaman buah yang kalau datang ke rumah, bisa nongkrong dan berdiskusi hingga berjam-jam. Banyak topik yang ditanyakan atau didiskusikan, mulai dari kekaguman mengapa begitu banyak buah unggulan yang tidak dieksplor hingga topik “berat” menyangkut masalah fisiologis tanaman dan “kultur jaringan” misalnya. Sangat menarik, karena hampir 99,5% dari mereka, bukan datang dengan latar belakang ilmu pertanian seperti yang penulis sampaikan di atas, namun sangat antusias untuk berdiskusi segala hal yang tidak atau belum pernah mereka ketahui sebelumnya. Beruntung dulu saya bisa kuliah di fakultas suatu perguruan tinggi yang mengajarkan banyak ilmu tentang pertanian, khususnya ilmu tentang tanaman, kalau tidak, malu rasanya kelihatan “bego”. Bikin blog soal buah tropis, tapi kok bego amat saat berdiskusi soal tanaman buah tropis dan segala hal yang berkaitan erat dengannya. Tulisan yang ada di blog ini dibuat seringan mungkin agar gampang dipahami oleh siapa pun, tanpa harus dibuat ribet dengan berbagai istilah yang kedengaran asing di telinga. Namun mungkin nantinya akan tetap muncul beberapa istilah yang ditulis apa adanya karena istilah tersebut memang tidak bisa dipaksakan untuk dipadankan ke dalam istilah Bahasa Indonesia yang baik dan benar. 

Hari ini, Jumat (hari yang paling baik dalam satu minggu, karena besok Sabtu, bisa weekend), 28 Januari 2011, saya memulai untuk me”manage” sebuah sarana yang difasilitasi oleh wordpress, untuk berbagi dan berdiskusi dengan semua orang, yang tertarik maupun yang baru mulai tertarik dengan segala hal yang berkaitan dengan BUAH TROPIS, Semoga Allah senantiasa menyertai segala niat baik hari ini. Amin………..

Salam BUAH TROPIS dari Yogyakarta yang tetap ISTIMEWA

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.