pupuk dan pemupukan

Sejatinya, segala jenis tanaman membutuhkan suplai makanan untuk menyelesaikan satu daur hidupnya (tumbuh, berkembang, berbunga, dan berbuah). Ada jenis tanaman yang menyelesaikan satu daur hidupnya dalam satu musim lalu mati, ada pula yang melalui beberapa musim sebelum mati, dan ada juga yang memerlukan waktu lebih lama untuk memutar daur hidupnya, berulang secara periodik dalam waktu bertahun-tahun. Dalam satu daur hidup, suplai makanan harus berlangsung secara kontinyu, agar tanaman bisa hidup secara sempurna. Secara umum, pertumbuhan tanaman dibagi menjadi menjadi dua fase. Fase vegetatif dideskripsikan sebagai masa pembiakan dan pertumbuhan sel-sel vegetatif yang dipersiapkan sebagai fase utama penunjang bagi tanaman sebelum tanaman memasuki fase berikutnya, yaitu fase generatif saat tanaman memulai periode berbunga dan diakhiri dengan periode berbuah. Pasca berbuah, tanaman tahunan khususnya, akan mengulangi proses tersebut sebagai suatu siklus secara periodik, mengikuti musim yang mengiringi pertumbuhan dan perkembangan tanaman.

Ibarat makanan pada manusia, hara dalam tanah adalah makanan bagi tanaman. Ketersediaan hara yang cukup sangat diperlukan untuk menunjang semua proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman, karenanya suplai hara secara kontinyu sangat diperlukan agar diperoleh manfaat maksimal dari usaha budidaya tanaman, khususnya tanaman buah. Ketersediaan hara dalam tanah akan berkurang dari waktu ke waktu karena terikut bersama bagian tanaman yang dipanen, tercuci oleh air (baik air irigasi maupun air siraman), maupun terikat oleh partikel lain dalam tanah sehingga menjadi tidak tersedia bagi tanaman. Memahami hal tersebut, diperlukan upaya untuk menambah atau setidaknya mempertahankan jumlah hara tersedia dalam tanah dengan cara pemberian hara dalam bentuk pupuk.

Secara umum, pupuk dibedakan menjadi pupuk organik dan pupuk anorganik. Pupuk organik diperoleh antara lain dari sumber yang memanfaatkan bagian/limbah tanaman (daun, buah, kulit buah, biji, cangkang buah, sabut, seresah, dan sebagainya), limbah ternak/hewan (kotoran, air seni, darah, kulit luar, cangkang, dan sebagainya), maupun sumber-sumber bahan organik lainnya (sampah/limbah rumah tangga, limbah restoran, limbah industri, maupun kotoran/air seni manusia), yang diproses secara alami di alam maupun difermentasi secara buatan agar semua bahan tersebut terurai sempurna dan menjadi hara tersedia bagi tanaman. Sementara pupuk anorganik diperoleh dari sintesis unsur/senyawa tertentu yang dimodifikasi susunan/bentuknya, sehingga jika diberikan ke dalam tanah dapat berubah dan menjadi hara tersedia serta dapat diserap oleh akar tanaman. Umumnya sintesis unsur/senyawa pupuk anorganik dilakukan di pabrik yang didesain khusus untuk keperluan tersebut.

Berdasarkan kandungannya, pupuk dibedakan menjadi pupuk dengan kandungan hara makro primer (mengandung unsur Nitrogen, unsur Phosphat, dan unsur Kalium/Potassium), hara makro sekunder (unsur Hydrogen, unsur Carbon, unsur Sulphur, unsur Calcium, dan unsur Magnesium), serta hara mikro (unsur Ferrum, unsur Zinc, unsur Boron, unsur Mangan, unsur Silika, dan unsur Aluminium). Masing-masing unsur mempunyai peran dan fungsi yang berbeda dalam proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Jumlah kebutuhan masing-masing unsur pun berbeda, sehingga beberapa unsur dikategorikan sebagai hara makro primer (unsur utama yang dibutuhkan dalam jumlah banyak), unsur hara makro sekunder (unsur utama yang dibutuhkan dalam jumlah lebih sedikit) serta unsur hara mikro (unsur penunjang yang dibutuhkan dalam jumlah sedikit namun mutlak harus tersedia).

Dilihat dari bentuknya, pupuk dibedakan menjadi pupuk berbentuk padat dan pupuk berbentuk cair. Pupuk padat umumnya diberikan langsung ke dalam tanah di sekeliling tanaman, sedangkan pupuk berbentuk cair biasanya diberikan ke tanaman lewat daun (foliar application) dan biasanya diaplikasikan melalui proses penyemprotan. Dalam beberapa kasus, ada pupuk yang dibuat berbentuk padat namun harus diaplikasikan dalam bentuk larutan (umumnya adalah pupuk daun), sementara ada beberapa orang yang sengaja menggunakan pupuk berbentuk padat yang dilarutkan ke dalam air dan diberikan ke tanaman dalam bentuk air siraman (Jawa : dikocor).

Melihat komposisinya, pupuk dibedakan menjadi pupuk tunggal, yaitu pupuk yang hanya terdiri atas satu unsur saja. Contoh untuk pupuk jenis ini adalah : pupuk urea (unsur Nitrogen), pupuk SP36 atau SP18 (unsur Fosfat), pupuk KCl (unsur K), pupuk Ca (unsur Calsium), pupuk Bo (unsur Boron), dan sebagainya. Selain pupuk tunggal, dikenal pula pupuk majemuk (compound fertilizer) yang terdiri atas kombinasi beberapa unsur, bisa dua unsur atau lebih yang digabung sekaligus. Pupuk NPK adalah contoh yang paling umum dari pupuk jenis ini. NPK adalah singkatan dari Nitrogen, Phosphat, dan Kalium, dengan komposisi yang beragam. NPK 15-15-15 menandakan bahwa pupuk NPK jenis ini mengandung 15% unsur N, 15% unsur P, dan 15% unsur K, sementara sisanya sebanyak 55% adalah bahan pengisi (filler) untuk mengikat ketiga unsur tersebut menjadi satu komposisi pupuk. Komposisi NPK sangat beragam, tergantung kepada kebutuhan pemupukan tanaman, sebagai contoh adalah komposisi 16-16-16, 20-20-20, 10-30-40, 5-40-20, dan kadang-kadang ditemukan pula komposisi 15-15-15+TE yang dapat diartikan sebagai NPK plus “Trace Element“, yakni NPK yang kandungannya ditambahi dengan beberapa unsur mikro. Pupuk majemuk masih dibagi lagi menjadi pupuk majemuk kategori “chemical blending” di mana unsur N,P,K dicampur dengan bahan pengisi/pengikat (filler) dan dibentuk menjadi pupuk butiran (granule) yang bersifat homogen dengan warna yang bermacam-macam, disesuaikan dengan keinginan pabrikan pupuk. Pupuk majemuk yang lain adalah pupuk majemuk kategori “physical blending” di mana unsur N,P,K dicampur langsung sesuai dengan komposisi yang diinginkan tanpa menggunakan bahan pengikat/pengisi sehingga di pupuk NPK jenis ini terlihat jelas semua material penyusun pupuk tersebut seperti kristal nitrogen, batuan fosfat, maupun kristal kalium dengan warna yang berbeda-beda dan tidak homogen.

Selain berdasarkan kandungan dan bentuknya, pupuk masih dapat dibedakan lagi menjadi pupuk untuk pertumbuhan sel-sel vegetatif serta pupuk untuk merangsang pembungaan dan pembuahan pada fase generatif. Nitrogen dan fosfat dalam jumlah lebih banyak dibutuhkan pada saat pertumbuhan vegetatif karena proses pembelahan dan perkembangan sel-sel yang insentif, sementara fosfat diperlukan dalam jumlah lebih dominan saat tanaman memasuki periode vegetatif yang ditandai dengan munculnya bunga, sementara untuk merangsang pembentukan bakal buah, pengisian buah serta pemasakan buah, dibutuhkan unsur kalium dalam jumlah yang lebih banyak. Dengan demikian, pada fase yang pertumbuhan dan perkembangan tanaman yang berbeda, dibutuhkan jenis pupuk yang berbeda pula.

Pemberian pupuk untuk tanaman mengacu kepada prinsip 4 (empat) tepat : Tepat JENIS, artinya jenis pupuk yang diberikan ke tanaman harus disesuaikan dengan kebutuhan tanaman. Tepat WAKTU, mengacu kepada waktu yang paling tepat untuk pemberian pupuknya. Tepat DOSIS menggambarkan bahwa pupuk harus diberikan dalam jumlah yang tepat, tidak dalam jumlah yang terlalu sedikit, apalagi diberikan dalam jumlah berlebihan. Tepat CARA memberi panduan bahwa pupuk harus diberikan ke tanaman dengan cara yang tepat agar diperoleh manfaat yang paling optimal bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman.

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: